Conversion Rate Optimization (CRO)

Conversion gap requires a strategic, data-driven solution

Traffic yang tinggi namun konversi rendah dapat disebabkan oleh banyak faktor. CRO membantu mengidentifikasi hambatan melalui data dan pengujian, bukan berdasarkan asumsi. Hasil dari CRO ini akan dipengaruhi oleh berbagai variabel, dan proses CRO akan memberikan insight baru untuk perencanaan selanjutnya.

  • 200%

    Conversion rate improvement with well-designed UI optimization

  • 11.45%

    Top-performing landing pages' conversion rate vs 2.35% industry average

  • 400%

    Potential conversion rate improvement with better UX design

Mengapa Brand Invest di CRO

Visitor Web Mengambil Keputusan dengan Cepat

Ketika visitor menggunakan sebuah aplikasi atau mengunjungi sebuah website tapi terasa membingungkan atau susah menemukan button call-to-action, mereka cenderung langsung meninggalkannya karena frustasi. CRO menganalisis bagaimana visitor berinteraksi dengan setiap halaman dan mengidentifikasi permasalahannya. Setelah mendapatkan datanya, perbaikan akan dilakukan, jadi bukan berdasarkan asumsi.

Membangun Kredibilitas Melalui Optimasi

Website atau aplikasi yang teroptimasi dengan baik mencerminkan profesionalisme. Konten yang jelas, navigasi yang logis membuat pengunjung lebih mempercayai suatu brand. CRO membantu memberikan fakta apa yang efektif dan apa yang masih perlu di-improve.

Optimasi Berbasis Data

Tahap Eksplorasi

Proses dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar, tidak hanya seputar demografi pengunjung, tetapi juga psikografi mereka:

  • Siapa pengunjung website Anda?
  • Apa yang membawa mereka datang?
  • Berapa jumlah halaman yang dikunjungi dalam satu sesi? Halaman mana yang paling sering diakses?
  • Kata kunci apa yang digunakan, dan apakah relevan dengan konten serta tujuan website?
  • Masalah apa yang ingin mereka selesaikan saat mengunjungi website Anda?
  • Tindakan apa yang paling Anda harapkan dari pengunjung?
  • Faktor apa yang membuat mereka memilih Anda dibandingkan alternatif lain?

dan masih banyak pertanyaan lain yang menjadi dasar dalam proses optimasi CRO.

Menetapkan Tujuan

Konversi memiliki arti yang berbeda bagi setiap bisnis. Bersama-sama, kita akan mendefinisikan apa goal untuk website Anda, lalu menyelaraskan strategi setiap halaman agar tercapai tujuan tersebut.

Pengujian Berkelanjutan

Kami menerapkan perubahan, mengukur efeknya, dan mempelajari hasilnya. A/B testing bisa juga dilakukan dan siklus akan diulang secara berkelanjutan untuk melakukan perbaikan selanjutnya.

Strategic
Memahami Mindset Visitor Website

Di balik setiap konversi terdapat sebuah keputusan. Di balik setiap keputusan ada faktor psikologis seperti motivasi, kekhawatiran, dan tingkat kepercayaan. Hasil dari CRO membantu memahami apa yang terjadi di website, sehingga kita dapat menangani permasalahan serta mempermudah visitor melakukan action.

Want to turn more visitors into customers? Get your free CRO audit.

Contact Form

YOURSELF

YOUR PROJECT

Frequently asked questions

Ya, dan pengaruhnya positif. Karena CRO mengarahkan konten agar relevan dengan audiens yang “tepat”, hal ini secara alami akan meningkatkan kualitas SEO website Anda di mata Google, Bing, dan lainnya.

Jumlah lead form submission (pengisian formulir), jumlah add-to-carts, total nilai pesanan (order value), penurunan angka pembatalan pembelian, hingga jumlah pendaftaran newsletter.

Untuk memahami kondisi website, kami perlu memantau interaksi pengunjung di dalamnya terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan mendiskusikan objective, menentukan hipotesis dan ide, lalu menjalankan A/B testing.

SEO berfungsi mendatangkan trafik eksternal. CRO berfungsi memaksimalkan pengunjung tersebut agar terjadi konversi atau melakukan aksi yang diinginkan. Anda bisa menjalankan CRO tanpa SEO jika trafik website sudah cukup tinggi. Namun, hasilnya akan jauh lebih maksimal jika keduanya dijalankan bersamaan karena saling mendukung.

Layanan CRO bekerja dalam siklus: tes, pelajari, perbaiki, ulangi. Satu perubahan jarang menyelesaikan semua masalah. Perilaku user berubah, pasar berkembang, dan kompetitor beradaptasi. Apa yang berhasil di kuartal lalu mungkin tidak efektif di kuartal depan. Iterasi memungkinkan adaptasi berkelanjutan. Setiap pengujian dibangun berdasarkan insight sebelumnya, menciptakan perbaikan yang bertingkat (compounding) dari waktu ke waktu, bukan sekadar kemenangan singkat.

UI/UX research bersifat diagnostik—menjawab “mengapa user berperilaku seperti ini?” melalui wawancara, observasi, dan analisis. Sedangkan CRO bersifat eksperimental—menjawab “perubahan mana yang menghasilkan angka lebih baik?” melalui A/B testing dan optimasi berkelanjutan.
Analogi: UX research ibarat pemeriksaan medis menyeluruh (medical check-up) untuk memahami kondisi pasien. CRO ibarat uji klinis untuk membuktikan pengobatan mana yang paling efektif.

Untuk hasil optimal, perusahaan butuh keduanya. Riset tanpa testing hanya menghasilkan asumsi. Testing tanpa riset menghasilkan eksperimen tanpa arah.

Metrik utamanya adalah conversion rate—persentase pengunjung yang menyelesaikan tindakan target. Namun, kami juga melacak metrik pendukung: bounce rate, time on page, form abandonment rate, click-through rate (CTR), dan revenue per visitor. Metrik spesifik yang diprioritaskan bergantung pada business goals Anda—lead generation tentu butuh pendekatan berbeda dibanding e-commerce.

CRO adalah proses berkelanjutan (ongoing), bukan one-time. Hasil awal dari A/B tests pertama biasanya terlihat dalam 4-6 minggu, tergantung volume trafik. Namun, optimasi yang signifikan butuh siklus iterasi—tes, pelajari, perbaiki, ulangi. Perusahaan yang konsisten menjalankan CRO biasanya melihat kenaikan konversi 20-30% dalam 6-12 bulan pertama.